{"id":18910,"date":"2026-07-21T13:30:44","date_gmt":"2026-07-21T06:30:44","guid":{"rendered":"https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/?p=1308"},"modified":"2026-08-04T11:53:58","modified_gmt":"2026-08-04T04:53:58","slug":"cara-kerja-dan-evolusi-word-embedding-dalam-perkembangan-nlp","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/en\/cara-kerja-dan-evolusi-word-embedding-dalam-perkembangan-nlp\/","title":{"rendered":"Cara Kerja dan Evolusi Word Embedding dalam Perkembangan NLP"},"content":{"rendered":"<div class=\"wpb-content-wrapper\"><div class=\"vc_row wpb_row vc_row-fluid\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-12\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<h1 class=\"wp-block-heading\" style=\"text-align: center;\"><strong>Cara Kerja dan Evolusi <em>Word Embedding<\/em> dalam Perkembangan NLP<\/strong><\/h1>\n<p>Kecakapan komputer untuk menafsirkan bahasa manusia secara organik ialah salah satu kesuksesan paling signifikan dalam lingkup <em>artificial intelligence<\/em>. Tapi, awalan dari sebuah komputer sebenarnya adalah mesin penghitung yang cuma paham soal angka, biner, dan matriks matematika. Di titik inilah <em>word embedding<\/em> tercipta sebagai penghubung utama di bidang <em>Natural Language Processing<\/em> (NLP), untuk mengganti diksi menjelma jadi gambaran numerik yang sarat akan makna.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\n<p>Tanpa disertai teknologi <em>word embedding<\/em> yang sesuai, langkah-langkah logis komputer akan gagal menguasai relasi semantik antar kata, kesepadanan konteks, atau spektrum perasaan pada sebuah kalimat. Menyadari proses <em>word embedding<\/em> beroperasi dan berevolusi dari waktu ke waktu memberikan visualisasi yang utuh perihal bagaimana <em>Large Language Models<\/em> atau LLM modern mampu mencerna perintah manusia dengan cermat sekali.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n\n\t<div  class=\"wpb_single_image wpb_content_element vc_align_center wpb_content_element\">\n\t\t\n\t\t<figure class=\"wpb_wrapper vc_figure\">\n\t\t\t<div class=\"vc_single_image-wrapper   vc_box_border_grey\"><img decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"256\" data-src=\"https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar-1-_8_-scaled-300x256.webp\" class=\"vc_single_image-img attachment-medium lazyload\" alt=\"ilustrasi word embedding yang menampilkan transformasi neural network dengan beberapa node yang saling terhubung\" title=\"ilustrasi word embedding yang menampilkan transformasi neural network dengan beberapa node yang saling terhubung\" data-srcset=\"https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar-1-_8_-scaled-300x256.webp 300w, https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar-1-_8_-scaled-1024x874.webp 1024w, https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar-1-_8_-scaled-768x655.webp 768w, https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar-1-_8_-scaled-1536x1310.webp 1536w, https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar-1-_8_-scaled-2048x1747.webp 2048w, https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar-1-_8_-scaled-14x12.webp 14w\" data-sizes=\"auto\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 300px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 300\/256;\" data-original-sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/div>\n\t\t<\/figure>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div><div class=\"vc_row wpb_row vc_row-fluid\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-12\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<h2 class=\"wp-block-heading\"><b>Apa Itu <\/b><b><i>Word Embedding<\/i><\/b><b> dan Bagaimana Cara Kerjanya?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara garis besar, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">word embedding<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ialah teknik pemodelan bahasa ketika kata atau frasa dari kosakata dipetakan ke vektor angka riil dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">vector space<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berdimensi tinggi. Berbeda dengan metode <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">word embedding<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tradisional seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">One-Hot Encoding<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang menghasilkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sparse matrix<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berukuran raksasa tanpa informasi hubungan makna, sedangkan teknik modern menghasilkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">dense vector<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara kerja teknologi ini didasarkan pada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">distributional hypothesis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Dalam dunia komputer, tingkat kemiripan makna antar-kata ini diukur dengan melihat seberapa dekat jarak posisi mereka di dalam peta koordinat raksasa tersebut. Nah, karena kata-kata ini sudah berubah menjadi koordinat angka, komputer bisa melakukan hal yang sangat ajaib seperti operasi matematika pada kata!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan kamu memberi tantangan logika ini kepada komputer:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Ambil kata <\/span><b>Raja<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, lalu buang unsur <\/span><b>Pria<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> dari dalamnya, kemudian tambahkan unsur <\/span><b>Wanita<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara luar biasa, hasil perhitungan matematika komputer akan langsung menunjuk pada koordinat kata <\/span><b>Ratu<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Komputer bisa memahami analogi hubungan sosial manusia murni lewat perhitungan angka-angka tersebut!<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><b>Era Awal: Pendekatan Tradisional Berbasis Frekuensi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum diciptakan sistem <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">machine learning<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang canggih, para periset NLP bergantung sekali pada ancangan statistik dan frekuensi kata. Tapi, pendekatan dasar ini yang jadi basis fundamental walaupun punya kendala yang utama dalam menginterpretasikan makna kontekstual.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa teknik <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">word embedding<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tradisional yang populer pada eranya meliputi:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Bag of Words (BoW):<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Teknik praktis yang mengalkulasi intensitas kemunculan kata di dalam satu dokumen dengan mengabaikan urutan kata atau tata bahasa.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>TF-IDF (Term Frequency-Inverse Document Frequency):<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Prosedur statistik yang menekankan bobot pada kata berdasarkan frekuensi kata itu muncul di sebuah dokumen dibandingkan dengan semua kumpulan dokumen (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">corpus<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Kata yang unik dan penting akan dapat bobot lebih tinggi.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Co-occurrence Matrix:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Matriks yang mendokumentasikan seberapa kerap dua kata itu muncul berbarengan pada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">context window<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tertentu.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walaupun pendekatan berbasis frekuensi ini cukup mumpuni untuk tugas klasifikasi teks sederhana, mereka tetap tidak bisa memahami relasi semantik yang lebih komprehensif dan sangat sensitif pada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">curse of dimensionality<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<h2><b>Revolusi Word2Vec dan GloVe: Lahirnya Representasi Statis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">kemajuan pesat pada revolusi NLP terjadi di tahun 2013, waktu Tomas Mikolov dan timnya di Google mengintroduksi Word2Vec. Sistem komputasi ini membuka fase pembaruan total, sehingga <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">word embedding<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bukan lagi cuma dihitung dengan statistik, tapi dikaji secara partisipatif memakai jaringan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">neural network<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sederhana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Word2Vec dilengkapi dua struktur rancangan utama yang berdaya guna tinggi:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Continuous Bag of Words (CBOW):<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Prototipe yang proyeksikan satu target kata, yang bersumber pada kata-kata di sekelilingnya.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Skip-gram:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Kontradiksi dengan CBOW, prototipe ini memakai satu kata untuk proyeksikan kata-kata di sekitarnya di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">context window<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tertentu.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Segera setelah itu, Stanford University meluncurkan GloVe (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Global Vectors for Word Representation<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Berlainan dengan Word2Vec yang cuma terpusat di kata-kata lokal, GloVe mengkombinasikan potensi statistik internasional dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">co-occurrence matrix<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang semua dokumennya pakai strategi pembelajaran berlandaskan optimasi vektor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kendati Word2Vec dan GloVe sukses mewujudkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">word embedding<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bermatra rendah yang kaya akan makna, dua-duanya digolongkan jadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">static embedding<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Sehingga, tiap-tiap katanya cuma punya satu perwakilan vektor tunggal, tidak peduli apa itu latar belakang kalimatnya. Hal ini menyebabkan dilema pada kata polisemi, seperti kata &#8220;<\/span><b>bisa<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">&#8221; yang artinya &#8220;<\/span><b>dapat<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">&#8221; atau &#8220;<\/span><b>racun ular<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;.<\/span><\/p>\n<h2><b>Era Modern: <\/b><b><i>Contextual Embedding<\/i><\/b><b> dan Dominasi <\/b><b><i>Transformer<\/i><\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kekurangan representasi statis alhasil berhasil diselesaikan oleh model baru pemrosesan bahasa alami yang berdasar pada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">contextual embedding<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Lewat mekanisme ini, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">word embedding<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> disusun secara adaptif dan bersumber ke semua kalimat atau paragraf tempat kata itu berada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemajuan ini digagas oleh beberapa model penting:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>ELMo (Embeddings from Language Models):<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Menggunakan jaringan saraf berulang dua arah (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bidirectional LSTM<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) untuk membaca teks dari depan ke belakang dan sebaliknya, sehingga mampu menghasilkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">word embedding<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang berbeda untuk kata &#8220;bisa&#8221; tergantung konteks kalimatnya.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>BERT (Bidirectional Encoder Representations from Transformers):<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Diperkenalkan oleh Google dengan memanfaatkan arsitektur <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Transformer<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang revolusioner. Melalui mekanisme <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">self-attention<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, BERT menganalisis hubungan timbal balik antara semua kata dalam satu kalimat secara dua arah, menghasilkan pemahaman bahasa yang sangat mendalam dan kontekstual.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teknologi berbasis <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Transformer<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> inilah yang menjadi dasar pokok bagi pengembangan model LLM modern saat ini, seperti GPT milik OpenAI, Gemini milik Google, dan Claude milik Anthropic.<\/span><\/p>\n<h2><b>Implementasi <\/b><b><i>Word Embedding<\/i><\/b><b> dalam Industri Teknologi Modern<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang, implementasi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">word embedding<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sudah jangkau macam-macam bidang teknologi yang kita pakai setiap harinya. Kapabilitas <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">word embedding<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ubah bahasa manusia jadi koordinat numerik yang akurat, bisa fasilitasi bisnis untuk maksimalkan layanan otomatisasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa contoh implementasi nyata <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">word embedding <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">di industri meliputi:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Mesin Pencari (Search Engine):<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Google dan Bing menggunakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">semantic search<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berbasis vektor untuk memahami maksud pencarian pengguna, bukan sekadar mencocokkan kata kunci secara harfiah.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Sistem Rekomendasi:<\/b> <i><span style=\"font-weight: 400;\">E-commerce<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menggunakan representasi ini untuk merekomendasikan produk berdasarkan kemiripan deskripsi barang yang sering dicari pengguna.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Analisis Sentimen:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Membantu perusahaan menganalisis opini publik di media sosial terhadap suatu merek atau produk secara otomatis dengan akurasi tinggi.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Chatbot dan Virtual Assistant:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Memungkinkan asisten digital memahami perintah suara atau teks manusia secara lebih interaktif dan alami.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div><div class=\"vc_row wpb_row vc_row-fluid\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-6\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<h2><b>Kesimpulan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Evolusi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">word embedding<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dari yang cuma perhitungan frekuensi statistik sederhana (TF-IDF) sampai representasi kontekstual berdasar pada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Transformer<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (BERT) sudah menggeser paradigma kemajuan NLP signifikan sekali. Kemampuan komputer untuk mencerna nuansa, konteks, dan hubungan emosional antar kata sekarang hampir menyamai kapabilitas manusia. Bagi para pengembang dan pegiat industri teknologi, kuasai dan terapkan teknik <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">word embedding<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan tepat ialah kunci utama untuk ciptakan jalan keluar <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">artificial intelligence<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang lebih cerdas, responsif, dan bernilai tinggi di masa depan.<\/span><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-6\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div  class=\"wpb_single_image wpb_content_element vc_align_center wpb_content_element\">\n\t\t\n\t\t<figure class=\"wpb_wrapper vc_figure\">\n\t\t\t<div class=\"vc_single_image-wrapper   vc_box_border_grey\"><img decoding=\"async\" width=\"2560\" height=\"2184\" data-src=\"https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar-2-_9_-scaled.webp\" class=\"vc_single_image-img attachment-full lazyload\" alt=\"visual ini menggambarkan word embedding lewat mekanisme contextual embedding\" title=\"visual ini menggambarkan word embedding lewat mekanisme contextual embedding\" data-srcset=\"https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar-2-_9_-scaled.webp 2560w, https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar-2-_9_-scaled-300x256.webp 300w, https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar-2-_9_-scaled-1024x874.webp 1024w, https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar-2-_9_-scaled-768x655.webp 768w, https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar-2-_9_-scaled-1536x1310.webp 1536w, https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar-2-_9_-scaled-2048x1747.webp 2048w, https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar-2-_9_-scaled-14x12.webp 14w\" data-sizes=\"auto\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 2560px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 2560\/2184;\" data-original-sizes=\"(max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><\/div>\n\t\t<\/figure>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"Cara Kerja dan Evolusi Word Embedding dalam Perkembangan NLP Kecakapan komputer untuk menafsirkan bahasa manusia secara organik ialah salah satu kesuksesan paling signifikan dalam lingkup artificial intelligence. Tapi, awalan dari sebuah komputer sebenarnya adalah mesin penghitung yang cuma paham soal angka, biner, dan matriks matematika. Di titik inilah word embedding tercipta sebagai penghubung utama di [...]","protected":false},"author":5,"featured_media":18913,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"wds_primary_category":0,"footnotes":""},"categories":[80],"tags":[491,492,489,495,494],"class_list":["post-18910","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-artificial-intelligence","tag-data-science","tag-machine-learning","tag-natural-language-processing","tag-word-embedding"],"blocksy_meta":{"has_hero_section":"enabled","hero_elements":[{"id":"custom_title","enabled":false,"heading_tag":"h1","title":"Home","__id":"Dy_MECZfphjFvFBzKjGYK"},{"id":"custom_description","enabled":true,"description_visibility":{"desktop":true,"tablet":true,"mobile":false},"__id":"tW88YQWNVT4_MDhXg3um7"},{"id":"custom_meta","enabled":true,"meta_elements":[{"id":"author","enabled":true,"label":"By","has_author_avatar":"yes","avatar_size":25},{"id":"post_date","enabled":true,"label":"On","date_format_source":"default","date_format":"M j, Y"},{"id":"updated_date","enabled":false,"label":"On","date_format_source":"default","date_format":"M j, Y"},{"id":"categories","enabled":true,"label":"In","style":"simple"},{"id":"comments","enabled":true}],"page_meta_elements":{"joined":true,"articles_count":true,"comments":true},"__id":"DTnDmwq2h3hwCT_oejEF-"},{"id":"breadcrumbs","enabled":false,"__id":"nXMDaFN9sCTz2cIhR_14t"}],"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"[data-prefix=\"single_blog_post\"] .entry-header .page-title {--theme-font-size:30px;} [data-prefix=\"single_blog_post\"] .entry-header .entry-meta {--theme-font-weight:600;--theme-text-transform:uppercase;--theme-font-size:12px;--theme-line-height:1.3;}","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":7}},"gutentor_comment":0,"rttpg_featured_image_url":{"full":["https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar-Unggulan-Word-Embedding.webp",1920,1080,false],"landscape":["https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar-Unggulan-Word-Embedding.webp",1920,1080,false],"portraits":["https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar-Unggulan-Word-Embedding.webp",1920,1080,false],"thumbnail":["https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar-Unggulan-Word-Embedding-150x150.webp",150,150,true],"medium":["https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar-Unggulan-Word-Embedding-300x169.webp",300,169,true],"large":["https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar-Unggulan-Word-Embedding-1024x576.webp",1024,576,true],"1536x1536":["https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar-Unggulan-Word-Embedding-1536x864.webp",1536,864,true],"2048x2048":["https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar-Unggulan-Word-Embedding.webp",1920,1080,false],"trp-custom-language-flag":["https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar-Unggulan-Word-Embedding-18x10.webp",18,10,true]},"rttpg_author":{"display_name":"dianaape@telkomuniversity.ac.id","author_link":"https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/en\/author\/dianaapetelkomuniversity-ac-id\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/en\/category\/artikel\/\" rel=\"category tag\">Artikel<\/a>","rttpg_excerpt":null,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18910","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18910"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18910\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18917,"href":"https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18910\/revisions\/18917"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18913"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18910"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18910"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/it-jkt.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18910"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}